Langsung ke konten utama

Sarjana : "Ternyata, Tak Semudah Yang Dibayangkan"


Perkenalkan nama saya Bagas Tri Mahendra (Bagas). Saya adalah mahasiswa Pendidikan Teknik Mesin di Universitas Negeri Semarang. Kali ini saya akan berbagi pengalaman yang dialami oleh teman-temanku yang telah menyelesaikan masa studinya, lebih tepatnya sekarang menjadi seorang sarjana.

Mungkin banyak dari teman-teman yang beranggapan ketika lulus kuliah nanti akan mudah untuk langsung memperoleh pekerjaan secepat kilat. Anggapan itu seakan menjadi doktrin yang umum dikalangan mahasiswa.














Namun nyatanya, anggapan tersebut seakan hilang dipikiran mereka setelah menjadi seorang sarjana. Kini, kata yang terlontar hanyalah ucapan yang pesismistis, “Cari kerja ternyata susah yah”.

Anggapan yang terdoktrin semasa kuliah itu membuat mahasiswa seakan hanya mengandalkan ijazahnya saja, atau mungkin juga mengandalkan nama kampusnya yang terkenal. Tanpa mengetahui faktor-faktor yang lainnya, sehingga kualitas mereka dipertanyakan.

Penyanyi legendaris Iwan Fals sejak 1981 sudah menyoroti lewat lagunya yang berjudul “Sarjana Muda”,

Engkau sarjana muda
Resah mencari kerja Mengandalkan ijazahmu
Empat tahun lamanya
Bergelut dengan buku Tuk jaminan masa depan...
Dari pintu kantor yang diharapkan
Terngiang kata tiada lowongan
Untuk kerja yang didambakan




Yaps. Dimana lulusan sarjana yang hanya mengandalkan ijazahnya dipertanyakan kualitasnya.

 
Untuk menghadapi persoalan tersebut, ada sedikit tips dari saya untuk meyiapkan diri sedari bangku kuliah guna bersaing di dunia kerja bagi kita yang akan menjadi  sarjana. Diantaranya adalah

1. Perbaiki kedisiplinan
Dimulai dengan kedisiplinan menghadiri perkuliahan, jangan sampai tidak berangkat kuliah dengan alasan yang sepele. Kerjakan tugas yang diberikan oleh dosen sesegera mungkin agar pengumpulan tugas tepat waktu, syukur kalau bisa dikumpulkan diawal waktu.

2. Kejar IPK Caumlaude dan Tingkatkan Kompetensi
Ada anggapan orang bahwa “IPK tinggi tidak menjamin masa depan”, menurut saya anggapan tersebut sangatlah keliru.  Toh kalaupun IPK yang tinggi tidak menjamin masa depan, bagimana halnya dengan IPK yang rendah?. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan meningkatkan kualitas atau kompetensi yang wajib dikuasai. Banyak perusahaan mencantumkan batas minimum IPK sebagai syarat pendaftar adalah IPK diatas 3,0 untuk PTN dan 3,25 untuk PTS. Itulah mengapa IPK sangatlah penting bagi kita semuanya.



3. Kuasai Bahasa Inggris
Dizaman sekarang, penguasaan bahasa Inggris sangatlah penting. Apalagi diperusahaan sekelas BUMN, menurut artikel lain yang pernah saya baca, persaingan untuk menjadi pegawai di BUMN tidak hanya berasal dari Indonesia saja, tetapi orang luar negeri juga banyak peminatnya. Maka dari itu, penguasaan bahasa Inggris wajib dimiliki bagi calon sarjana.

4. Tingkatkan Hardskill dan Softskill
Hardskill bisa dilatih dengan cara mengikuti pelatihan maupun seminar-seminar sesuai dengan bidang yang diminatinya, piagam dan sertifikat adalah bukti bahwa kamu memiliki skill dibidang tersebut.
Softskill bisa dilatih dengan bergabung dengan organisasi, baik organisasi intra kampus maupun ekstra kampus. Dengan begitu kecakapanmu bekerja secara individu maupun tim akan menjadi nilai plus saat melamar pekerjaan nantinya.


Dizaman yang serba canggih ini, platform-platform pencari kerja agaknya menjadi salah satu titik terang bagi seorang sarjana. Banyak platform penyedia informasi pekerjaan dengan kelebihannya masing-masing. Salah satu diantaranya adalah Glints, platform ini menurut saya sangatlah bermanfaat, terutama bagi seorang sarjana.


https://glints.com/id



Kelebihan dari platform ini menurut saya adalah:
Menampilkan informasi pekejaan sesuai dengan jurusan (keahlian), bakat, dan minat dari  pelamar. Juga menampilkan tips-tips yang bisa dijadikan pedoman saat melamar pekerjaan nantinya.
Contonya ada disini
 


Itulah alasan mengapa saya merekomendasikan platform ini sebagai bahan rujukan untuk memulai mencari pekerjaan yang kalian inginkan.

“Tidak ada yang tidak mungkin selagi kita berusaha untuk memungkinkan hal yang tidak mungkin itu” – Bagas Tri M.



Komentar